Sementara itu, di bagian pulau lainnya, di sebuah tempat di bawah naungan senja, seorang mata-mata Uksa tergesa-gesa menyelinap ke dalam perkemahan. Wajahnya tegang, sorot matanya penuh kecemasan. Dia langsung menuju Widhi, kepala suku, yang sedang berdiskusi dengan para tetua tentang rencana perjalanan mereka selanjutnya dan rencana bergabung dengan suku Sinto di barat.
“Kepala suku, rombongan besar mendekat!” serunya tanpa basa-basi, napasnya tersengal.
Widhi langsung berdiri, raut wajahnya berubah serius. “Berapa banyak?”
“Rombongan mereka belum jelas terlihat karena masih jauh, tapi diperkirakan lebih dari seratus orang,” jawab mata-mata itu dengan nada mendesak.
Para tetua yang mendengar kabar itu langsung saling bertukar pandang. Kepanikan mulai terasa. Widhi mengangkat tangannya, memanggil beberapa pemuda terkuat di sekitar api unggun. “Kita tidak punya waktu. Siapkan tombak! Tarik semua orang ke sini. Pertahankan garis luar. Jika mereka suku Monrest atau rombongan berniat jahat, kita balas!”
"Kepala suku, bagaimana selanjutnya? Apakah kita bersiap mengungsi?" Tanya salah satu anggota.
"Kita tidak sempat untuk mengungsi, kedatangan mereka ke tempat ini diluar dugaan." Jawab Widhi. "Tempat ini seharusnya jauh dari jangkauan suku Monrest. Tapi siapapun mereka, kita tidak punya pilihan lain selain menyerang!"
Di bawah perintah Widhi, semua anggota suku bergerak cepat. Beberapa orang menyiapkan busur dan panah, sementara yang lain menyiapkan tombak dari kayu. Beberapa anak muda membawa batu besar ke dekat perbatasan.
Para wanita dan anak-anak serta para suku yang lanjut usia, berkumpul di satu tempat di jaga oleh beberapa orang pemuda.
“Kita belum sempat membuat jebakan di tempat ini. Kondisi kita sangat berbahaya!” salah satu tetua,  memperingatkan.
“Kita tidak punya pilihan,” Widhi menjawab tegas. “Jika mereka berniat menyerang, kita harus siap.”
Saat mereka sibuk bersiap, langkah-langkah kaki yang berat semakin mendekat. Rombongan itu akhirnya terlihat, keluar dari balik pepohonan. Orang-orang Uksa langsung mengangkat senjata mereka, bersiap menyerang. Widhi berdiri di depan, tongkat kayunya terangkat tinggi.
“Siapa kalian?!” seru Widhi dengan suara keras, penuh wibawa.
Seorang pria tua dengan postur tegap melangkah maju dari rombongan itu. Meski wajahnya dihiasi kerutan usia, tubuhnya masih memancarkan kekuatan. Dia memegang tombak besar, tapi tidak mengangkatnya. “Aku Raka, kepala Suku Raksa,” katanya dengan suara yang berat dan dalam.
“Kami tidak peduli siapa kalian!” salah satu pemuda Uksa berseru sambil mengangkat tombak. “Pergi dari sini sebelum kami menyerang!”
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para pemuda Uksa. “Suku Raksa? Bukankah mereka suka mencuri dari suku lain?” bisik salah satu dari mereka.
"Aku ingat, saat kita menangkap hewan buruan, bukankah orang-orang dari suku Raksa yang merebut paksa hasil buruan kita?" Bisik yang lainnya.
Beberapa anggota Raksa tampak geram mendengar ancaman itu. Mereka menyadari, banyak anggota mereka yang melakukan tindak kejahatan dengan alasan bertahan hidup. Ini semua terjadi karena perpecahan di antara suku mereka sendiri dan tidak ada pemimpin yang mengatur mereka. Namun melihat suku mereka tidak diterima, mereka merapatkan barisan, bersiap menghadapi perlawanan. Namun, Raka mengangkat tangannya, memberi tanda agar rombongannya tenang.
“Kami tidak datang untuk bertarung,” Raka berkata dengan nada tenang namun tegas. “Kami hanya ingin bicara.”
“Bicara apa?” Widhi balas bertanya dengan curiga. “Kalian datang dengan senjata dan membawa banyak orang. Itu bukan cara untuk ‘bicara’!”
"Kami mengungsi dari tempat kami, dan kami kesini atas petunjuk seseorang bernama Lynx untuk bergabung dengan suku Uksa," Kata Rira yang berada di samping Raka.
"Lynx?" Kepala suku Widhi memandang mereka dengan curiga. Dia memperhatikan kembali rombongan di depan mereka, terdapat banyak wanita dari usia muda hingga tua dan anak-anak.
“Jangan percaya, Ketua!” salah satu tetua Uksa berbisik. “Monrest sering menggunakan tipu daya seperti ini.”
"Ketua, bukankah banyak orang suku Raksa yang bergabung menjadi perampok. Kita harus berhati-hati terhadap mereka," bisik salah satu suku Uksa.
Ketegangan semakin memuncak. Beberapa anggota Uksa tidak mempercayai suku Raksa, mereka mulai mengangkat panah mereka untuk bersiap menyerang, sementara Arkha dan suku Raksa lainnya juga mulai mengarahkan tombak ke depan. Widhi dan Raka saling menatap tajam, keduanya seperti dua gunung yang siap bertabrakan.
“Hei, hei! Jangan terlalu serius, Ayah!”
Semua mata mendadak beralih ke sumber suara. Kanha, putra bungsu Widhi, muncul dari barisan Raksa. Dia melambaikan tangan sambil menggenggam sebatang dahan pohon, wajahnya penuh senyum jahil.
“Kanha?!” Widhi hampir tidak percaya. “Apa yang kau lakukan di sana?!”
Namun Kanha tidak menjawab. Sebaliknya, dia mulai melangkah ke arah orang-orang Uksa dengan gaya santai yang terlalu santai untuk situasi ini. Dia bahkan memetik sebutir buah dari pohon terdekat dan menggigitnya dengan santai.
“Santai saja, semuanya,” katanya dengan nada ringan. “Kalau kalian menyerang, aku harus menjelaskan semuanya. Dan jujur saja, aku malas bicara panjang lebar.”
Narendra, putra sulung Widhi, muncul dari belakang Kanha. Tidak seperti adiknya, wajah Narendra serius. Dia langsung berjalan ke arah Widhi dan berkata tegas, “Ayah, tenang. Mereka sekutu kita. Ini Suku Raksa, mereka datang atas arahan Lynx.”
“Sekutu?!” Widhi melotot, tak percaya.
Narendra mengangguk dan menunjuk Raka. “Ini Raka, kepala Suku Raksa yang baru. Lynx membantu mereka bersatu kembali. Dan Lynx juga sudah menyelamatkan kami semua dari jebakan licik suku Monrest. Sekarang mereka ingin bekerja sama dengan kita, sambil menunggu kedatangan Lynx.”
Narendra melanjutkan kata-katanya."Mereka juga bisa membantu kita bertahan disini untuk sementara waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke barat."
Raka akhirnya angkat bicara. “Kami tahu kesalahan masa lalu suku kami, dan kami memohon kesempatan untuk membuktikan bahwa kami sudah berubah. Lynx memberi kami harapan baru.”
Ketegangan perlahan mereda, tapi Widhi masih ragu. Kanha, seperti biasa, memecah suasana dengan komentar santainya. “Kalau mereka musuh, aku pasti sudah kabur duluan,” ujarnya sambil terkekeh.
Beberapa anggota Uksa tertawa kecil, dan akhirnya Widhi menurunkan tongkatnya. “Baiklah. Kami percaya pada Lynx. Tapi kalian harus membuktikan diri layak dipercaya.”
Raka tersenyum tipis dan mengangguk hormat. “Kami berterima kasih atas kesempatan ini.”
Malamnya, kedua suku berkumpul di sekitar api unggun. Setelah membagi tugas untuk membangun tempat tinggal sementara, suasana mulai mencair. Kanha mengambil kesempatan untuk menceritakan kejadian luar biasa di Suku Raksa.
“Kalian tidak akan percaya apa yang terjadi di sana!” katanya dengan penuh semangat. “Lynx dan Narendra ikut pertandingan untuk memilih kepala suku Raksa. Tapi ternyata salah satu peserta adalah penyamaran salah satu pimpinan pasukan Monrest, Valgor.”
"Apa Valgor? Dia pimpinan Monrest yang sangat kejam dan kuat." Kata salah satu suku Uksa.
"Valgor di katakan memiliki kekuatan yang mampu mengalahkan beberapa makhluk mutasi hanya seorang diri." Kata yang lainnya.
"Bagaimana kalian bisa selamat dan lolos dari tangan Valgor?" Tanya yang lainnya dengan wajah penasaran.
Semua orang terdiam, menunggu lanjutan cerita.
“Kalian harus tahu, di pertandingan itu, Valgor menyamar sehingga tidak ada satupun yang mengenalinya. Di pertandingan pertama, Kak Narendra juga ikut tapi dia langsung dikalahkan dalam sekali serang." Lanjut Kanha sambil menjulurkan lidah mengolok kakaknya yang ada di dekatnya.
"Narendra? Kalah dalam sekali serang?" Kata salah satu suku Uksa yang tidak percaya karena mengetahui kekuatan Narendra. Menurutnya Kanha terlalu melebih-lebihkan cerita. Meski tidak mungkin bisa mengalahkan Valgor, namun Narendra pasti bisa bertahan saat melawannya untuk beberapa saat.
"Bukankah dia menyamar, jadi seharusnya belum menggunakan kekuatannya. Bagaimana Narendra bisa dikalahkan dengan mudah?" Tanya yang lainnya dengan tidak percaya.
"Ini memang membuktikan kekuatan suku Monrest tidak bisa di remehkan sedikitpun." Kata yang lainnya.
Kanha melanjutkan ceritanya sambil memandang Arkha." Valgor lalu melawan Arkha, orang yang di unggulkan suku Raksa sebagai yang terkuat, tapi dengan mudah Valgor mengalahkannya juga."
"Dia sangat kuat dan cepat." Kata Arkha yang malu dengan kekalahannya.
"Dia tidak mungkin bisa menjadi pimpinan pasukan suku Monrest jika hanya memiliki kekuatan biasa." Kata salah satu suku Raksa.
